Membedah Ada Tiadanya Jurnalisme Islam

0

Jurnalisme Islam — Jujur, untuk menulis tema ini saya merasa keberatan. Bukan berarti saya tidak paham atau tidak mempunyai bahan, ada hal yang membuat saya berat, namun saya tidak mengetahui alasannya.

Terkait yang berat-berat, saya jadi teringat almarhum ibunda saya. Ya, beliau bila sedang “berat”, aktivitas favoritnya adalah membaca atau mendengarkan suratul Al Waqiah.

Jadi misal saya sedang dilanda yang “berat-berat”, saya pun meniru beliau. Barangkali Anda bisa mencobanya ya, semoga rasa “berat” bisa hilang begitu saja.

Akhirnya saya paksakan diri sebab tema ini memang jarang dibahas. Sempat saya selidiki pula melalui riset kecil-kecilan. Setelah diutak-utik hasil pencarian ada 20 user per bulan. Saya pikir itu cukup daripada tidak ada sama sekali.

Tulisan ini juga tergelitik dari sebuah seminar yang waktu itu kalau tidak salah membahas mengenai komunikasi Islam — yang salah satunya membahas mengenai jurnalisme.

Di seminar itu seorang mahasiswa bertanya, “Apakah jurnalisme Islam itu ada?”

Dari pertanyaan tersebut, ada salah satu pemateri yang menjawab bahwa jurnalisme Islam itu hanya label. Konkritnya, jurnalisme Islam memang kurang mendapat pengakuan karena kurang adanya keprofesionalan dalam mengelola media.

Sebelum melangkah ke bab yang lebih jauh, mari kita bahas dasar dari pengertian jurnalisme.

Pengertian Jurnalisme Islam

pengertian jurnalisme islam
http://gariswarnafoto.com

Jurnalisme atau yang biasa disebut jurnalistik adalah sebuah aktivitas mengumpulkan, menuliskan lalu menerbitkan.

Tiga poin pokok yang perlu mendapat perhatian adalah mengumpulkan, menuliskan kemudian menerbitkannya. Jika ada salah satu yang kurang, atau tidak memenuhi ketiga kriteria di atas; maka belum bisa disebut sebagai jurnalisme.

Bila disangkut-pautkan dengan jurnalisme Islam, maka bukan berarti pengertiannya menjadi mengumpulkan, menuliskan lalu menerbitkan tema-tema yang hanya berfokus pada Islam.

Benang merahnya, jurnalisme Islam pengertiannya tetaplah kegiatan mengumpulkan, menuliskan dan menerbitkannya.

Tawaran Jurnalisme Islam Lebih Lengkap

Lalu apa sih yang mendasari adanya jurnalisme Islam? Bila mendasari dari pengertian di atas, posisi jurnalisme Islam memperjelas dari runtutan pengertian jurnalisme yang tadi telah disebutkan.

Maksudnya, jurnalisme Islam bukan hanya sekedar mengumpulkan, menuliskan lalu menerbitkan. Lebih dari itu, jurnalisme Islam mengharuskan awak media termasuk wartawan yang terjun ke lapangan untuk profesional dalam segala hal.

Pertanyaannya, apa yang dimaksud profesional dalam ranah jurnalisme Islam?

Adapun pijakan keprofesionalan yang digunakan dalam jurnalisme Islam sebenarnya ada di 4 sifat Rosulullah Saw yakni sidiq, amanah, fathonah dan tabligh.

1. Sidiq

Seorang wartawan saat mengumpulkan berita hendaknya jujur. Sifat kejujuran ini biasa disebut objektif.

Seorang wartawan harusnya memberitakan kejadian dengan sebenar-benarnya, bukan memproduksi berita untuk mengadu domba.

Keberimbangan dalam pemberitaan juga berkaitan dengan samanya porsi pendapat antara pihak-pihak yang dilibatkan. Lebih dari itu, wartawan Muslim pun harus berimbang dalam memilih diksi dalam kalimat-kalimat pemberitaan.

2. Amanah

Poin kedua dari sifat jurnalisme Islam adalah amanah. Sifat ini juga mutlak dimiliki setiap wartawan Muslim. Seorang wartawan  tidak boleh menerima uang dari salah satu pihak yang bersangkutan dengan hal yang diberitakan.

Seorang wartawan hendaklah independen sebab jika seorang wartawan menerima uang ilegal, secara otomatis hal tersebut akan mempengaruhi mental keindependensiannya saat memproduksi sebuah berita.

Begitu sukarnya sifat amanah ini, bila seorang wartawan tidak berhati-hati, tentu saja pemberitaan tidak akan objektif.

Misal bila ada bencana alam, seorang wartawan untuk menuju tempat bencana mau tidak mau harus ikut di pihak lain dengan alasan pihak media tidak menyediakan fee pemberangkatan.

Atau bisa juga wartawan beranggapan bisa menghemat sehingga bisa mendompleng pihak lain agar bisa sampai di tempat.

Hal tersebut tentu saja sangat berdampak dengan gaya pemberitaan dan arah keberpihakan. Selebihnya, Anda bisa membaca skripsi saya bertajuk Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalime tentang Pemberitaan Pesawat AirAsia.

3. Fathonah

Sifat ketiga dari jurnalisme Islam adalah fathonah. Sifat ini mempunyai arti cerdas.

Seorang wartawan khusunya Muslim harus cerdas dalam mengumpulkan, membuat dan mempublikasikannya.

Sebab, bagi seorang Muslim jurnalisme bukanlah sekedar jurnalisme, melainkan nantinya juga dipertanggungjawabkan.

Meskipun demikian, bukan berarti jurnalisme Islam kaku; Tidak! Justru sifat cerdas seperti ini sangat penting sebab berkaitan dengan masa depan Islam itu sendiri.

Konkritnya, jurnalisme Islam melalui sifat fathonah. Setiap wartawan hendaknya cerdas mengemas berita agar apa yang ditulisnya akan sampai kepada pembaca sesuai pesan yang dikehendaki.

Tentu saja pesan tersebut bukan hanya berdampak jangka pendek atau soal ekonomi saja, lebih dari itu, sebuah media harus mempunyai goal setting yang akan menentukan daya tawar Islam kedepannya.

4. Tabligh

Karakter keempat dari jurnalisme Islam adalah tabligh yang artinya menyampaikan. Di dalam jurnalisme Islam, cara menyampaikannya pun sangat diperhatikan.

Tabligh dalam hal ini tentu saja berkaitan dengan dakwah. Nah, Anda bisa berkaca bagaimana Rosulullah Saw berdakwah, seperti itulah seharusnya media Islam ada.

Mulai dari cara menyampaikannya, bahasa yang digunakannya sampai pada moment seperti apa.

***

Itulah 4 point karakteristik jurnalisme Islam. Kini Anda tahu bukan bagaimana perbedaan jurnalisme dengan jurnalisme Islam dari segi proses mulai dari mengumpulkan, menuliskan sampai menerbitkannya.

Dari pemaparan di atas, semoga Anda bisa menjawab jurnalisme Islam itu ada atau semu semata.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *