Tulisan Arab Insya Allah, Arti Insya Allah dan Keutamaan-keutamaannya

0

Arti Insya Allah — Barangkali kisah ini adalah kisah yang selalu saya ingat. Kisah Nabi Muhammad ketika ditegur oleh Allah lantaran lupa menyebut insya Allah.

arti insya Allah
konsultasisyariah.com

Namun sebelum beranjak ke kisah di atas, mari kita bahas terlebih dahulu pengertian insya Allah, tulisan Arab insya Allah dan arti insya Allah itu sendiri.

Pengertian Insya Allah

tulisan insya Allah
Media Dakwah

Lafal insya Allah adalah lafal yang digunakan ummat Muslim apabila hendak mengerjakan sesuatu, baik yang sifatnya berjanji ataupun hanya ingin memenuhi sebuah hajat.

Begitu mulianya seorang Muslim, dengan lafal insya Allah, setiap Muslim sadar betul bahwa semua yang terjadi di atas muka bumi ini adalah karena kehendak-Nya.

Baik daun yang jatuh, ranting yang berguguran, terlebih apa yang akan kita lakukan esok hari sebenarnya merupakan kehendak Allah. Tanpa Allah yang berkendak, tidak akan ada kejadian yang kita alami.

Tulisan Arab Insya Allah

tulisan arab insya Allah
Media Dakwah

Hal yang sering jadi perbedaan adalah cara penulisan kalimah insya Allah. Ada yang menuliskannya dengan insha Allah, insya Allah, insha Alloh dan lain sebagainya.

Pertanyaannya, mana penulisan yang tepat?

Bila berbicara mengenai kata, tentu tidak terlepas dari bahasa yang telah disempurnakan di Negara bersangkutan. Misalnya, bila huruf syin ش  ditransletkan ke bahasa Indonesia tentu saja akan menjadi syaa, bukan shaa.

Kecuali bila Anda ingin melafalkannya sesuai kaidah bahasa Inggris, tentu yang tepat adalah penulisan dengan menggunakan shaa. Jadi, penulisan yang tepat adalah insya Allah dalam versi bahasa Indonesia.

Begitu pula ketika menulis ‘Allah’, di dalam bahasa Indonesia sendiri huruf ‘o’ kata bakunya diganti dengan huruf ‘a’. Jadi, tulisan yang tepat mengenai الله adalah Allah menggunakan huruf ‘a’.

Lebih rincinya sebagai berikut

إن = bila

شاء = menghendaki

الله = Allah

Paham ya?

Kisah Teguran Nabi Muhammad Saw

Kisah ini benar-benar membuat saya terharu dan rasanya ingin mengulang-ulang bila membacanya. Bila diibaratkan, rasa ingin tahu mengenai kisah ini rasanya ingin ditularkan ke sesama Muslim lainnya.

Kisah ini diambil dari Sirah Nabawiyah karangan Muhammad Asshalabi dalam suatu riwayat yang dijelaskan Ibnu Hisyam bahwa ketika di Madinah sedang terjadi pertentangan pemikiran yang rumit antara Rasulullah Saw dengan kaum Quraisy.

Kaum Quraisy pun mengutus Nadhir bin Haritsah dan Uqbah bin Abi Mu’aith untuk datang ke para rabbi Yahudi agar memberitahukan kiranya apa saja yang bisa ditanyakan terkait kenabian Rasulullah Saw.

Singkat cerita, para rabbi Yahudi pun meenyuruh utusan kaum Quraisy tersebut untuk menanyakan 3 hal, “Bila ia (Muhammad Saw) mengetahui dua hal yang pertama dan tidak mengetahui yang ketiga, maka ia benar-benar Nabi yang diutus oleh Allah. Namun apabila ia tidak bisa menjawabnya, berarti ia mengada-ada dan untuk akhir urusan terserah kalian.”

Adapun tiga hal yang menjadi pertanyaan yakni terkait pemuda yang pergi pada masa lalu, apa yang dilakukan dan apa sebenarnya peristiwa menakjubkan yang terjadi.

Kedua terkait seorang lelaki yang berkelana, ia telah mengunjungi seluruh penjuru bumi.

Dan yang ketiga adalah terkait ruh, apa yang dimaksud ruh itu.

Dengan bergegas, dua orang utusan dari kaum Quraisy itu pun kembali kepada kaumnya lalu mengabarkan apa saja yang perlu ditanyakan kepada Nabi untuk membuktikan kebenaran Nabi Muhammad Saw.

Selanjutnya, kaum Quraisy pun datang menemui Nabi Muhammad Saw, “Wahai Muhammad, beritahukan kami mengenai pemuda yang pergi pada masa lalu, pemuda yang mempunyai kisah menakjubkan, mengenai seorang laki-laki yang mengelilingi penjuru dunia dan beritahukan kepada kami mengenai ilmu ruh.”

Karena ucapan Rasulullah Saw adalah ucapan yang datangnya dari Allah, maka Rasulullah Saw pun menunggu wahyu untuk menyampaikan jawaban tersebut.

Kala itu, Nabi pun menjawab, “Akan kujawab apa yang kamu tanyakan besok.”

Esok yang dijanjikan Nabi Muhammad pun tiba. Namun Jibri belum datang untuk memberikan jawaban. Rasulullah Saw pun berdiam diri, kala itu penduduk Mekah pun kian terguncang.

Terujilah keimanan para sahabat dan kaum Muslimin kala itu, di antara penduduk Mekkah kaum Quraisy pun ada yang berkata, “Muhammad telah berjanji kepada kita satu hari dan hari ini telah berjalan lima belas hari.”

Sebagai Rasul namun juga manusia, Rasulullah Saw menjadi sedih lantaran wahyu yang diharapkan belum turun, terlebih perkataan masyarakat Mekkah yang membuat hatinya gelisah.

Hingga akhirnya, apa yang dinanti-nanti pun datang. Waktu itu turunlah ayat teguran yang berkaitan dengan ucapan Insya Allah.

“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu esok pagi,” kecuali dengan mengatakan Insya Allah (jika Allah menghendaki)” Dan Ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepadaku agar aku lebih dekat pada kebenaran dari pada ini.” (al-Kahfi (18) ayat 23-24).

Rasulullah Saw pun tersadar dan bertaubat kepada Allah akan kekhilafan tersebut. Kemudian setelah wahyu turun, Rasulullah Saw pun menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kaum Quraisy.

Jawaban yang pertama dan kedua adalah Ashabul Kahfi dan Dzulqarnain. Adapun terkait jawaban pertanyaan nomer 3, Nabi Muhammad menjawab dengan wahyu dari Allah yang berbunyi

“Dan mereka bertanya tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan, melainkan sedikit saja” (al-Isro’ (17): 85).

Karena pada hakikatnya tidak ada seorang manusiapun yang mengetahui ilmu tentang ruh kecuali sedikit saja baik apa itu ruh maupun seperti apa bentuknya. Dan ilmu yang ada tentang ruh hanyalah di sisi Allah. Hanya Allah yang tahu.

Dengan kisah di atas, terbuktilah bahwa Nabi Muhammad Saw adalah benar-benar utusan Allah. Meskipun awalnya ada beberapa di antara masyarakat Mekkah yang ragu, namun setelah jawaban Rasulullah Saw tersebut mereka menjadi sangat yakin.

Keutamaan-keutamaan Arti Insya Allah

keutamaan insya Allah
dakwatuna.com

Itulah pentingnya lafal insya Allah bagi seorang Muslim. Lafal insya Allah bukan hanya digunakan untuk berjanji, lebih dari itu sebenarnya lafal tersebut adalah bagian doa agar Allah mempermudah apa yang kita janjikan atau rencanakan.

Bila ditinjau di zaman ini, sering lafal insya Allah digunakan untuk orang yang sebenarnya “tidak bisa”, namun karena “tidak enak” dengan teman kata insya Allah lalu dilafalkan.

Padahal, lafal insya Allah artinya lebih ke usaha dengan sungguh-sungguh agar bisa menjalani dan melakukan apa yang telah disampaikan kepada kita.

Maksudnya bersungguh-sungguh, setiap kegiatan yang dilakukan setiap hamba tidak tercekuali hanya atas dasar ketundukan dan dalam rangka mencari ridha Allah. Ya, supaya Allah benar-benar menghendaki apa yang kita lakukan sekaligus meridhai apa yang kita usahakan.

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita seorang Muslim.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *